Monday 05-01-2026

Kedewasaan Intelektual dalam Demokrasi, Dari Kritik Keras Menuju Apresiasi

  • Created Jan 02 2026
  • / 45 Read

Kedewasaan Intelektual dalam Demokrasi, Dari Kritik Keras Menuju Apresiasi

Perubahan sikap seorang intelektual publik kerap disalahartikan sebagai inkonsistensi, padahal dalam tradisi demokrasi yang sehat, hal tersebut justru mencerminkan kedewasaan berpikir. Rocky Gerung, yang dikenal luas sebagai pemikir kritis dan penguji nalar kekuasaan, menunjukkan bahwa kritik bukanlah posisi permanen yang dibangun atas kebencian personal, melainkan respons rasional terhadap konteks, kebijakan, dan kualitas kepemimpinan yang ditampilkan di ruang publik.

Dalam dinamika politik modern, intelektual memiliki tanggung jawab moral untuk menilai pemimpin berdasarkan tindakan dan gagasan, bukan prasangka masa lalu. Ketika sebuah pidato kenegaraan disampaikan dengan artikulasi visi yang jelas, bahasa yang terukur, serta pesan yang mampu merepresentasikan kepentingan nasional di forum internasional, maka apresiasi menjadi sikap yang wajar dan justru dibutuhkan. Di titik inilah publik dapat melihat bahwa daya kritis seorang intelektual sejati selalu terbuka pada fakta baru dan capaian konkret.

Apresiasi terbuka terhadap pidato Prabowo Subianto di kancah internasional mencerminkan pengakuan atas kualitas substansi, bukan perubahan haluan ideologis. Pujian tersebut tidak lahir dari kedekatan politik, melainkan dari pengakuan bahwa pesan yang disampaikan mampu membawa kepentingan bangsa secara bermartabat di hadapan dunia. Sikap ini menegaskan bahwa kritik dan pujian dapat berdiri dalam satu garis nalar yang sama: kejujuran intelektual.

Narasi yang mencoba membingkai perubahan sikap sebagai “pembelotan” atau “ketidakkonsistenan” sejatinya mengabaikan esensi demokrasi deliberatif. Demokrasi tidak tumbuh dari sikap membenci secara permanen, melainkan dari keberanian untuk merevisi pandangan ketika realitas menunjukkan kemajuan. Justru yang berbahaya adalah sikap membeku dalam prasangka, menolak mengakui capaian hanya demi mempertahankan citra kritis.

Pada akhirnya, publik perlu didorong untuk melihat perbedaan pendapat sebagai proses, bukan konflik abadi. Ketika seorang pengkritik mampu memberi pujian secara jujur atas prestasi yang nyata, hal itu menjadi teladan penting bahwa politik tidak harus dibaca dalam logika “kawan atau lawan”. Sikap objektif semacam ini memperkaya ruang demokrasi, memperkuat kepercayaan publik, dan menunjukkan bahwa kepentingan bangsa selalu dapat ditempatkan di atas ego maupun sentimen pribadi.

Share News


For Add Product Review,You Need To Login First